Burning Giraffes and Telephone

“Pak. Kapan kirim uang buat anak-anak? Aku sudah tak punya apa-apa lagi untuk menghidupi mereka, Pak.”
“Nanti, Mak. Kalau Bapak sudah gajian. Emak usaha sendiri dulu lah buat kasih makan anak-anak.”
“Tapi, Pak. Sudah 8 bulan Bapak merantau, masa belum dapat gaji juga? Uang simpananku sudah habis, Pak. Gajiku sehari tak cukup untuk makan kami bertiga, Pak. Hutang sembako sudah menumpuk dan orang-orang sudah tidak mau lagi memberiku pinjaman, Pak”
“Aaaaahh sudah sudah! Pusing aku dengar keluhanmu, Mak.”
Brakkkk .Tut tut tut tut tut
Emak menggenggam erat gagang telepon di tangannya dengan sedih dan terluka, sambil memandang dua buah hatinya yang tampak kurus dengan leher kecil menjenjang, berdiri kepanasan karena terbakar matahari di tengah lapangan tandus dan berdebu.
Sementara di seberang telepon, mata sang Bapak tak berkedip memandang sekretarisnya dalam balutan blus tipis yang menggugah nafsu. Seolah siap melilitkan telepon di depannya kepada gadis itu dan menembaknya dengan pistol yang mencuat dari tubuhnya.

 

-vee-

Prompt #Quiz 5 MondayFlashFiction

Word Count : 157

 

NB : Sepertinya saya harus belajar lagi setelah hampir setahun cuti baca tulis :D, mohon koreksinya teman – teman (^_^)v

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *