( Late post ) Pengalaman Menyusui selama Hamil dan Tandem Nursing

wpid-c360_2014-06-13-12-54-15-289.jpg

Hamil dan Menyusui

“Sudahlah, berhenti aja nyusuinya, percuma itu ASI-nya tinggal ampas aja, gak ada gizinya. Lagian kasihan bayi di perutmu nanti gak sehat, kurang gizi “

Saya sering sekali mendapat nasehat seperti itu dari orang – orang di sekitar saya. Menurut mereka, menyusui saat sedang hamil itu tidak bagus. Padahal, selama sang ibu kuat (dalam artian tidak ada masalah dengan kehamilan seperti terjadi kontraksi saat menyusui, dehidrasi atau gangguan kehamilan lainnya) serta kebutuhan nutrisi untuk janin dan membentuk ASI masih bisa dipenuhi oleh tubuh sang ibu, maka menyusui selama hamil itu sah – sah saja. Pengalaman saya pribadi, Alhamdulillah menyusui selama hamil itu tidak menimbulkan efek yang negatif bagi saya. Hanya saja, pertambahan berat badan saya selama hamil jauh lebih sedikit jika dibandingan dengan saat hamil tanpa menyusui seperti dua anak saya sebelumnya.  Perbedaannya hanya 3 kg dari awal hamil sampai usia kandungan 10 bulan ( dari 65 kg ke 68 kg ).

Selama 5 bulan pertama kehamilan, jumlah ASI yang keluar masih normal alias tidak berkurang sama sekali. Masih sering sakit kalau kepenuhan dan tidak segera disusukan kepada bayi. Lalu volume ASI mulai berkurang dan payudara sudah tidak pernah terasa penuh hingga bulan ke-6 produksi ASI berhenti total. Tapi meskipun ASI Tidak keluar, bayi saya masih saja minta ASI ( dan bahasa kerennya ngempeng :p).

Di usia kehamilan 7 bulan, ASI mulai produksi lagi. Tapi ASI yang keluar berupa kolostrum, yaitu cairan yang kental berwarna kuning keemasan dan sedikit lengket mirip seperti madu. Awalnya sedikit takut untuk tetap memberikan ASI ini untuk Mas Shoka takut kalau nantinya dekbay yang diperut tidak kebagian  kolostrum saat lahir nanti karena kolostrum hanya diproduksi sedikit dalam waktu yang cuma sebentar. Tapi, ternyata dokter kandungan saya mengatakan bahwa kolostrum tetap akan diproduksi sampai kelahiran nanti dan tidak usah khawatir bayi tidak akan kebagian. Berbekal itu, saya tetap memberikan kolostrum untuk Mas Shoka sampai menjelang persalinan. Sambil sesekali pada saat mandi, saya cek apakah kolostrumnya masih keluar. Dan Alhamdulillah memang masih terus keluar hingga hari ke-3 setelah pesalinan.

Tandem Nursing

Anak ketiga saya, Shanum, lahir hampir tengah malam. Hari itu, usia Mas Shoka tepat 2.5 tahun. Dan berhenti mimik ASI sejak saya berangkat ke Rumah Sakit Bersalin sampai sehari setelah persalinan. Waktu itu saya seneng banget, karena sepertinya tidak pelu repot untuk menyapih Mas Shoka. Tapi eh tapiiii…. Waktu pulang dari rumah sakit, Mas Shoka gak mau sama sekali nengok adeknya n gak mau bobok sama saya ( karena di kamar ada penghuni baru dan ngungsi ke kamar eyangnya ) sampai akhirnya dia tumbang di hari ke-3, kena batpil dan demam. Nah selama sakit, Mas Shoka maunya gendooonggg terus, maunya deket2 saya terus dan merengek minta mimik ASI aja. Makannya juga suuuuuliiittt buangettt. Akhirnya nyerah, Mas Shoka mik ASI lagi sampai sembuh dan keterusan sampe sekarang ( Usia Mas Shoka 2 tahun 11 bulan ). Dan Alhamdulillah meski mimiknya gantian, Dek Shanum sama sekali gak ketularan batpil kakaknya.

Tandem Nursing itu capeknya pake banget lah ya. Cepet banget bikin haus, jadi berasa dikit-dikit minum, dan sering banget ngerasa hausnya itu pas ditengah2 prosesi menyusui :P. Belum lagi payudara terasa penuh dan sakit kalau menyusui satu anak saja dalam satu waktu plus sering bikin bayi suka keselek, sedangkan posisi menyusui dua anak bebarengan itu sering kali gak nyaman dan bikin badan jadi pegel-pegel.

Eh tapi gak boleh ngeluh siii…. 😆😆😆 Alhamdulillah stok ASI melimpah, cukup buat dua buah hatiku. Gak apa2 deh emaknya pegel-pegel. Nah buat emak2 di luar sana yang juga lagi tandem nursing, AYOH TETAPH SMANGATTTTTHHHHH…. KALIAN HEBATTTT….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *